Resmume 2

Nama : deslan.margaret br malau
NIM : 022019017
I. PRINSIP GIZI PADA SAAT PERSALINAN
Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan. Status ini merupakan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi (Sunarti, 2004).
KEBUTUHAN OKSIGEN
  Pemenuhan kebutuhan oksigen selama proses persalinan perlu diperhatikan oleh bidan, terutama pada kala I dan kala II, dimana oksigen yang ibu hirup sangat penting artinya untuk oksigenasi janin melalui plasenta. Suply oksigen yang tidak adekuat, dapat menghambat kemajuan persalinan dan dapat mengganggu kesejahteraan janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan pengaturan sirkulasi udara yang baik selama persalinan.
KEBUTUHAN CAIRAN DAN NUTRISI
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama proses persalinan. Pastikan bahwa pada setiap tahapan persalinan (kala I, II, III, maupun IV), ibu mendapatkan asupan makan dan minum yang cukup. Asupan makanan yang cukup       (makanan utama maupun makanan ringan), merupakan sumber dari glukosa darah. Glukosa darah merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar gula darah yang rendah akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan asupan cairan yang kurang, akan mengakibatkan dehidrasi pada ibi bersalin.
Dalam memberikan asuhan, bidan dapat dibantu oleh anggota keluarga yang mendampingi ibu. Selama kala I, anjurkan ibu untuk cukup makan dan minum, untuk mendukung kemajuan persalinan. Pada kala II, ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi, karena terjadi peningkatan suhu tubuh dan terjadinya kelelahan karena proses mengejan. Untuk itu disela-sela kontraksi, pastikan ibu mencukupi kebutuhan cairannya (minum). Pada kala III dan IV, setelah ibu berjuang melahirkan bayi, maka bidan juga harus memastikan bahwa ibu mencukupi kebutuhan nutrisi dan cairannya, untuk mencegah hilangnya energi setelah mengeluarkan banyak tenaga selama kelahiran bayi (pada kala II).
KEBUTUHAN ELIMINASI
Pemenuhan kebutuhan eliminai selama persalinan perlu difasilitasi oleh bidan, untuk membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali selama persalinan. Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:
Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke dalam rongga panggul, terutama apabila berada di atas spina isciadika
Menurunkan efisiensi kontraksi uterus/his
Mengingkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu karena bersama dengan munculnya kontraksi uterus
Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II
Memperlambat kelahiran plasenta
Mencetuskan perdarahan pasca persalinan, karena kandung kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.
KEBUTUHAN HYGIENE (KEBERSIHAN PERSONAL)
Kebutuhan hygiene (kebersihan) ibu bersalin perlu diperhatikan bidan dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin, karena personal hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman dan relax, mengurangi kelelahan, mencegah infeksi, mencegah gangguan sirkulasi darah, mempertahankan integritas pada jaringan dan memelihara kesejahteraan fisik dan psikis. Tindakan personal hygiene pada ibu bersalin yang dapat dilakukan bidan diantaranya: membersihkan daerah genetalia (vulva-vagina, anus), dan memfasilitasi ibu untuk menjaga kebersihan badan dengan mandi.

Pada kala I fase aktif, dimana terjadi peningkatan bloodyshow dan ibu sudah tidak mampu untuk mobilisasi, maka bidan harus membantu ibu untuk menjaga kebersihan genetalianya untuk menghindari terjadinya infeksi intrapartum dan untuk meningkatkan kenyamanan ibu bersalin.

Pada kala II dan kala III, untuk membantu menjaga kebersihan diri ibu bersalin, maka ibu dapat diberikan alas bersalin (under pad) yang dapat menyerap cairan tubuh (lendir darah, darah, air ketuban) dengan baik.

Pada kala IV setelah janin dan placenta dilahirkan, selama 2 jam observasi, maka pastikan keadaan ibu sudah bersih. Ibu dapat dimandikan atau dibersihkan di atas tempat tidur. 
KEBUTUHAN ISTIRAHAT
Selama proses persalinan berlangsung, kebutuhan istirahat pada ibu bersalin tetap harus dipenuhi. Istirahat selama proses persalinan (kala I, II, III maupun IV) yang dimaksud adalah bidan memberikan kesempatan pada ibu untuk mencoba relax tanpa adanya tekanan emosional dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela his). Ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat his, makan atau minum, atau melakukan hal menyenangkan yang lain untuk melepas lelah, atau apabila memungkinkan ibu dapat tidur. Namun pada kala II, sebaiknya ibu diusahakan untuk tidak mengantuk.
Setelah proses persalinan selesai (pada kala IV), sambil melakukan observasi, bidan dapat mengizinkan ibu untuk tidur apabila sangat kelelahan. Namun sebagai bidan, memotivasi ibu untuk memberikan ASI dini harus tetap dilakukan. Istirahat yang cukup setelah proses persalinan dapat membantu ibu untuk memulihkan fungsi alat-alat reproduksi dan meminimalisasi trauma pada saat persalinan.




POSISI DAN AMBULASI
Posisi persalinan yang akan dibahas adalah posisi persalinan pada kala I dan posisi meneran pada kala II. Ambulasi yang dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan pada kala I.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan posisi melahirkan :

o Klien/ibu bebas memilih, hal ini dapat meningkatkan kepuasan, menimbulkan perasaan sejahtera secara emosional, dan ibu dapat mengendalikan persalinannya secara alamiah.
o Peran bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa nyaman.
o Secara umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri bukanlah posisi berbaring.
o Sejarah: posisi berbaring diciptakan agar penolong lebih nyaman dalam bekerja. Sedangkan posisi tegak, merupakan cara yang umum digunakan dari sejarah penciptaan manusia sampai abad ke-18.

Macam-macam posisi meneran diantaranya :
Duduk atau setengah duduk, posisi ini memudahkan bidan dalam membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan keadaan perineum.
Merangkak, posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.
Jongkok atau berdiri, posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, dan memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini beresiko memperbesar terjadinya laserasi (perlukaan) jalan lahir.
Berbaring miring, posisi berbaring miring dapat mengurangi penekanan pada vena cava inverior, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia janin karena suply oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya robekan jalan lahir.
Hindari posisi telentang (dorsal recumbent), posisi ini dapat mengakibatkan : hipotensi (beresiko terjadinya syok dan berkurangnya suply oksigen dalam sirkulasi uteroplacenter, sehingga mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri yang bertambah, kemajuan persalinan bertambah lama, ibu mangalami gangguan untuk bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi ibu kurang bebas, ibu kurang semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
PENGURANGAN RASA NYERI
Nyeri  persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Respon fisiologis terhadap nyeri meliputi: peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot. Rasa nyeri ini apabila tidak diatasi dengan tepat, dapat meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stres, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya persalinan lama.

KEBUTUHAN AKAN PROSES PERSALINAN YANG TERSTANDAR
Mendapatkan pelayanan asuhan kebidanan persalinan yang terstandar merupakan hak setiap ibu. Hal ini merupakan salah satu kebutuhan fisiologis ibu bersalin, karena dengan pertolongan persalinan yang terstandar dapat meningkatkan proses persalinan yang alami/normal.
II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GIZI PADA SAAT BERSALIN
Faktor-faktor yang mempengaruhi gizi ibu bersalin : 

o Umur.
o Berat badan.
o Suhu lingkungan.
o Aktivitas.
o Status kesehatan.
o Pengetahuan zat gizi dalam makanan.
o Status ekonomi.

1. Umur
Lebih muda umur ibu hamil, maka energi yangg dibutuhkan lebih banyak.
2. Berat Badan
Berat badan lebih ataupun kurang dari berat badan rata-rata untuk umur tertentu, merupakan faktor menentukan jumlah zat makanan yang harus dicukupi selama hamil.
3. Suhu Lingkungan
Suhu tubuh dipertahankan pada 36,5-37 derajat Celcius yang digunakan untuk metabolisme optimum. Lebih besar perbedaan suhu tubuh dan lingkungan berarti lebih besar pula masukan energi yang diperlukan.
4. Aktivitas
Semakin banyak aktivitas yang dilakukan maka semakin banyak energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
5. Status Kesehatan
Pada saat kondisi tidak sehat maka asupan energi tetap harus diperhatikan.

6. Pengetahuan Zat Gizi dalam Makanan
Perencanaan dan Penyusunan Makanan
Perencanaan dan penyusunan makanan kaum ibu atau wanita dewasa mempunyai peranan yang penting. Faktor yang mempengaruhi perencanaan dan penyusunan makanan yang sehat dan seimbang antara lain:

Kemampuan keluarga dalam membeli makanan.
Pengetahuan tentang zat gizi.
Dengan demikian, tubuh ibu akan menjadi lebih efisien dalam menyerap zat gizi dari makanan sehari-hari.

7. Status Ekonomi
Status ekonomi maupun sosial mempengaruhi terhadap pemilihan makanan.

Kebiasaan dan Pandangan Wanita Terhadap Makanan
Pada umumnya, kaum ibu atau wanita lebih memperhatikan keluarga daripada saat ibu tersebut hamil. Ibu hamil sebaiknya memeriksakan kehamilannya, minimal empat kali selama kehamilannya.
III. PENGARUH STATUS GIZI PADA PROSES PERSALINAN
1. Makanan Yang Dianjurkan Selama Persalinan
Makanan yang disarankan dikonsumsi pada kelompok Ibu yang makan saat persalinan adalah roti, biskuit, sayuran dan buah-buahan, yogurt rendah lemak, sup, minuman isotonik dan jus buah-buahan (O’Sullivan et al, 2009). Menurut Elias (2009) Nutrisi dan hidrasi sangat penting selama proses persalinan untuk memastikan kecukupan energi dan mempertahankan kesimbangan normal cairan dan elektrolit bagi Ibu dan bayi. Cairan isotonik dan makanan ringan yang mempermudah pengosongan lambung cocok untuk awal persalinan. Jenis makanan dan cairan yang dianjurkan dikonsumsi pada Ibu bersalin adalah sebagai berikut (Champion dalam Elias,2009):

Makanan:
Roti atau roti panggan (rendah serat) yang rendah lemak baik diberi selai ataupun madu.
Sarapan sereal rendah serat dengan rendah susu.
Nasi tim.
Biskuit.
Yogurt rendah lemak.
Buah segar atau buah kaleng.
Minuman:
Minuman yogurt rendah lemak.
Es blok.
Jus buah-buahan.
Kaldu jernih.
Diluted squash drinks.
Air mineral.
Cairan olahraga atau cairan isotonik.
Ibu melahirkan harus dimotivasi untuk minum sesuai kebutuhan atau tingkat kehausannya. Jika asupan cairan Ibu tidak adekuat atau mengalami muntah, dia akan menjadi dehidrasi, terutama ketika melahirkan menjadikannya banyak berkeringat (Micklewirght & Champion, 2002 dalam Thorpe et al, 2009). Salah satu gejala dehidrasi adalah kelelahan dan itu dapat mengganggu kemajuan persalinan dan menyulitkan bagi Ibu untuk lebih termotivasi dan aktif selama persalinan. Jika Ibu dapat mengikuti kecenderungannya untuk minum, maka mereka tidak mungkin mengalami dehidrasi (McCormick, 2003 dalam Thorpe et al, 2009).

2.    Pengaruh Asupan Makan dan Minum Selama Persalinan
a.    Kebutuhan Energi Selama Persalinan
Tidak ada data pasti dari hasil penelitian yang menunjukkan kebutuhan energi pada Ibu yang bersalin. Namun 18 tahun yang lalu tim Investigator Walter Reed Army Medical Center mengamati kebutuhan metabolik Ibu bersalin sama dengan latihan aerobik selama terus-menerus. Sedangkan menurut American College of sport medicine menetapkan bahwa minuman karbohidrat dapat menghilangkan kelelahan pada yang latihan aerobik terus menerus, sehingga hal ini relevan pada Ibu hamil.
b.    Ketosis
Ibu hamil rentan terhadap ketosis karena tuntutan metabolism perkembangan janin dan perubahan hormon. Persalinan lama akan meningkatkan produksi keton, dan diperburuk dengan berpuasa. Scrutton et al (1999) melakukan penelitian secara acak untuk mengetahui efek dari diet rendah residu sebanyak 48 orang atau hanya minum air saja sebanyak 46 orang selama persalinan, terhadap kondisi metabolik, hasil persalinan, dan volume residu lambung. Akhir persalinan kelompok yang hanya minum air putih menunjukkan kejadian ketosis yang lebih besar serta menurunnya kadar glukosa dan insulin.
c.    Hiponatremia
Hiponatremia dapat menimbulakan komplikasi kehamilan pada Ibu hamil. Hiponatremia kondisi yang ditemukan pada Ibu bersalin yang terlalu banyak minum air. Penelitian Johanssen et al (2002) dalam Nancy (2010) ditemukan 4 neonatus dan Ibu melahirkan mengalami kejang dan gangguan sistem syaraf pusat yang berhubungan dengan asupan oral Ibu selama bersalin sebanyak 4 dan 10 liter air atau jus buah selama persalinan. Terjadi peningkatan cairan ekstraseluler pada Ibu hamil dan kemampuan kompensasi cairan akut pada Ibu hamil mengalami penurunan. Sehingga Ibu dan janin mengalami penurunan yang cepat kadar natrium dalam darah.
d.    Stres Persalinan
Ternyata makan dan minum saat persalinan dapat mengurangi stress pada Ibu ketika bersalin. Penelitian Penny Simpkin (1986) dalam Nancy (2010) melaporkan dari 159 Ibu bersalin, 27% Ibu yang dibatasi asupan makanan mengalami stress dan 57% Ibu  bersalin mengalami stress dengan pembatasan asupan cairan. Penelitian senada dilakukan oleh Amstrong dan Johnson (2000), 149 Ibu bersalin di Scottish, 30 % diantaranya memilih untuk asupan makanan ketika bersalin dan 25% diantaranya menunjukkan kepuasan terhadap proses persalinannya berlangsung.
e.    Muntah
O’Reilly, Hoyer dan Walsh (1993) melakukan penelitian pada hubungan asupan oral terhadap kejadian muntah pada 106 Ibu bersalin. Ibu tersebut memilih sendiri jumlah dan jenis makanan yang ingin dikonsumsi. Penelitian ini diamati dari semua tahap persalinan. pada awal persalinan 103 Ibu memilih untuk asupan makanan dan menurun hingga 50 Ibu yang tetap asupan makanan pada fase mulai aktif mendorong/persalinan. Ibu yang makan dan minum selama persalinan, 20 orang mengalami muntah dan 8 orang muntah lebih dari sekali. Muntah dikaitkan dari jumlah asupan makanan yang lebih banyak dari minum. Tidak ada hubungan antara Ibu yang mengalami muntah dan tidak, terhadap lama persalinan, dan hasil persalinan yang buruk.

f.    Hasil Persalinan
Scheepers et al (2002) melakukan penelitian control placebo dan menerapkan double blind di Belanda pada 100 Ibu beresiko rendah. Partisipan menerima 200 ml cairan karbohidrat atau cairan sejenis yang mengandung aspartame. Ibu yang memerlukan cairan intravena mendapatkan cairan normal saline dan tidak diijinkan mengkonsumsi makanan lain secara oral. Tidak ada data perbedaan yang signifikan terhadap kualitas hasil persalinan, atau kelahiran. Secara khusus, keseimbangan asam-basa janin tidak berbeda antara 2 kelompok.
Beberapa penelitian di atas, menjelaskan mengenai manfaat makan dan minum selama persalinan. Akan tetapi anjuran makan dan minum ini berada dalam batas ketentuan yang wajar. Karena terdapat pula dampak negatif yang tidak dapat dipungkiri dari makan dan minum selama proses persalinan ini. Seperti hiponatremia ketika Ibu mengkonsumsi air mineral lebih dari 2.500 ml selama proses persalinan. Atau keadaan muntah saat persalinan ketika Ibu berlebihan makan makanan selama persalinan. Meski demikian, dari keseluruhan penelitian yang meneliti makan dan minum selama persalinan tidak memiliki dampak negatif terhadap lama persalinan atau pun hasil persalinan yaitu bayi. Artikel ini, menganjurkan Ibu untuk tetap konsumsi makan dan minum selama persalinan, dengan makanan yang ringan rendah lemak seperti biskuit, roti, buah-buahan, yogurt, jus buah atau mengkonsumsi minuman istonik untuk menghindari kejadian ketosis pada Ibu selama persalinan dan memberi tambahan energi dan stamina selama persalinan.

Komentar